1 Agustus 1774 - Penelitian tentang Oksigen dipublikasikan

Kamu bernafas menghirup apa? Pertanyaan sederhana ini biasanya dijawab dengan dua jawaban, pertama menghirup udara, dan kedua menghirup oksigen. Jawaban kedua adalah jawaban yang lazim diucapkan oleh anak-anak, sebab sejak kecil mereka telah diajarkan apa itu Oksigen. Oksigen adalah udara, dan udara adalah oksigen. begitulah pemahamannya.

Oksigen adalah sesungguhnya merupakan unsur kimia berupa zat asam yang dilambangkan dengan huruf O dan nomor atom 8. Penemuan oksigen sesungguhnya telah dipopulerkan oleh antoine Lavoisier, namun baru dipublikasikan secara ilmiah pada tahun 1774, tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1774 oleh  Joseph Priestley di Wiltshire.

Selain Priestley, sebenarnya ada pula penemuan oksigen oleh seorang ilmuan, yaitu  Carl Wilhelm Scheele di Uppsala pada tahun 1773, namun Prietstley lah yang pertama mempublikasikannya.

Oksigen atau zat asam adalah unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang mempunyai lambang O dan nomor atom 8. Ia merupakan unsur golongan kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya (utamanya menjadi oksida). Pada Temperatur dan tekanan standar, dua atom unsur ini berikatan menjadi dioksigen, yaitu senyawa gas diatomik dengan rumus O2 yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Oksigen merupakan unsur paling melimpah ketiga di alam semesta berdasarkan massa dan unsur paling melimpah di kerak Bumi. Gas oksigen diatomik mengisi 20,9% volume atmosfer bumi

Semua kelompok molekul struktural yang terdapat pada organisme hidup, seperti protein, karbohidrat, dan lemak, mengandung oksigen. Demikian pula senyawa anorganik yang terdapat pada cangkang, gigi, dan tulang hewan. Oksigen dalam bentuk O2 dihasilkan dari air oleh sianobakteri, ganggang, dan tumbuhan selama fotosintesis, dan digunakan pada respirasi sel oleh hampir semua makhluk hidup. Oksigen beracun bagi organisme anaerob, yang merupakan bentuk kehidupan paling dominan pada masa-masa awal evolusi kehidupan. O2 kemudian mulai berakumulasi pada atomsfer sekitar 2,5 miliar tahun yang lalu. Terdapat pula alotrop oksigen lainnya, yaitu ozon (O3). Lapisan ozon pada atomsfer membantu melindungi biosfer dari radiasi ultraviolet, namun pada permukaan bumi ia adalah polutan yang merupakan produk samping dari asbut.

Oksigen secara industri dihasilkan dengan distilasi bertingkat udara cair, dengan munggunakan zeolit untuk memisahkan karbon dioksida dan nitrogen dari udara, ataupun elektrolisis air, dll. Oksigen digunakan dalam produksi baja, plastik, dan tekstil, ia juga digunakan sebagai propelan roket, untuk terapi oksigen, dan sebagai penyokong kehidupan pada pesawat terbang, kapal selam, penerbangan luar angkasa, dan penyelaman.

"Endohedral Fullerenes", Material Paling Mahal Di Dunia


Material yang paling mahal di dunia bukan berlian dan emas atau logam mulia lainnya, tetapi suatu material berbasis karbon berupa lapisan atom karbon yang di dalamnya tersimpan molekul-molekul lain yang diciptakan oleh ilmuwan Inggris. Harganya selangit, mencapai 100 juta pound sterling per gram (sekitar USD 150 juta) atau setara dengan Rp. 2 Triliun per gramnya.

Material endohedral fullerene adalah material berupa kerangkeng atom-atom karbon yang berisi atom-atom nitrogen. Material baru itu diciptakan ilmuwan di Laboratorium Universitas Oxford menjadi material termahal di dunia dengan harga yang ditaksir mencapai USD150 juta atau sekira Rp2 Triliun per gramnya. Ditemukan oleh seorang ilmuan bernama Dr Kyriakos Porfyrakis.
Apa saja kegunaannya sehingga dihargai setinggi itu? 


Material ini digunakan untuk membuat jam atom, sistem penunjuk waktu paling akurat di dunia, dalam ukuran portabel. Sampai saat ini, jam atom hanya bisa dibuat dalam ukuran yang menghabiskan satu ruangan untuk menempatkannya. Kegunaan lainnya adalah untuk membuat sebuah sistem navigasi GPS untuk mobil tanpa pengendara dengan tingkat ketepatan hingga 1 milimeter.

Atom karbon ada dalam berbagai bentuk, termasuk bentuk wajik dan graphene. Fullerene yang dinamakan Buckminsterfullerene ini terbentuk dari 60 karbon atom. Material ini juga disebut sebagai bucky ball karena bentuknya yang menyerupai bola.

Design Carbon Materials, sebuah perusahaan pengembangan milik Universitas Oxford yang telah meneliti material ini selama lebih dari 12 tahun, baru-baru ini menjual 200 mikrogram endohedral fullerene dengan harga Rp444 juta. Tingginya harga material tersebut disebabkan tingkat kesulitan pembuatannya. Para peneliti harus bekerja dalam tingkat atomik, membuatnya sangat sulit untuk diproduksi dengan cepat dan jumlah besar.



Tentang Fullerenes
Fullerene adalah nama generik untuk alotrop karbon 3 dimensi, dengan molekul C60 yang berbentuk bola yang merupakan hasil riset dari R. E. Smalley, H. W. Kroto dkk. ketika mereka mendeteksi C60 ini pada spektrum massa dari pemanasan grafit dengan laser pada tahun 1985. 



Strukturnya adalah ikosahedral terpancung (di sudut-sudutnya) dan antar atom karbonnya terdapat karakter ikatan rangkap. Fuleren larut dalam pelarut organik, dalam benzen larutannya bewarna ungu. Biasanya, fuleren diisolasi dan dimurnikan dengan kromatografi. Fulleren memiliki sifat superkonduktor. 

Fullerenes mendekati sarang berlubang yang terdiri dari atom carbon yang saling berhubungan pada ring pentagonal dan heksagonal. Masing-masing atom carbon pada permukaan sarang yang berikatan pada tiga carbon tetangga dengan hibridisasi sp2. 

Bentuk paling terkenal dari fullerene adalah C60 yang dikenal dengan nama “buckyball”. Selain fullerenes, ada juga bentuk lain dari alotrof Karbon yakni carbon intan, nanotube, dan grafen yang merupakan lembaran dari grafit.


Fullerene tersusun dari unsur murni karbon berjumlah 60 atom (dikenal dengan C60) atau lebih yang antara satu dengan lainnya terhubung dengan ikatan kimia berjenis orbital sp3. Selama ini telah dikenal beberapa jenis fullerene seperti C60, C70, C120, dan lain-lain. Dari jenis tersebut, C60 merupakan material yang paling populer karena yang ditemukan pertama dan berbentuk unik seperti bola sepak.


Sebelum fullerene muncul, para ahli kimia karbon beranggapan bahwa tidak ada lagi material dari unsur karbon yang lebih stabil dari berlian dan grafit. Karena itu, munculnya fullerene dengan komposisi unsur karbon simetris dan bentuk yang elok, amat menyegarkan iklim penelitian di bidang kimia karbon. Penemuan fullerene memicu ditemukannya material baru bernama carbon nanotube (disingkat CNT) berbentuk pipa, yang tidak kalah penting di bidang teknologi nano.


Kalau awalnya para ahli hanya mengakui kalau zat C60 bersifat stabil, maka baru pada tahun 1990, dua peneliti bernama W Kratschmer dari Jerman dan D Huffman dari Amerika dalam suatu kerja sama penelitian, berhasil memproduksi C60 dalam skala besar dengan metode baru. Hasilnya, bentuk C60 bisa diukur dan dibuktikan memang seperti bola sepak seperti prediksi penemunya.
Hasil eksperimen tersebut menguatkan keberadaan fullerene dan sekaligus membuat penasaran para peneliti untuk menguji karakteristiknya. Maka menjamurlah penelitian dengan fokus fullerene dari berbagai macam disiplin ilmu.

DILIHAT dari sifat penghantar listrik, pada umumnya fullerene bersifat isolator. Tetapi, jika logam alkali didoping/dimasukkan ke dalam fullerene, maka pada suhu ruangan material ini akan bersifat sebagai logam. Telah ditemukan juga, jika unsur "kalium" yang didopingkan, benda tersebut berubah menjadi superkonduktor.

Tahun 2001 ditemukan lagi keunikan material baru tersebut, yakni bahwa fullerene bersifat sebagai magnet pada suhu dan tekanan yang tinggi. Dengan metode lain bisa didapatkan pula fullerene yang bersifat sebagai semikonduktor. Begitulah, banyak fenomena-fenomena unik yang muncul dari fullerene ini, yang mungkin masih akan terus bertambah.

Sifatnya penghantar fullerene yang bisa dikontrol, struktur dalam ukuran nanometer, dan sifat kimiawi yang stabil inilah yang menarik perhatian para peneliti karena yakin bisa diaplikasikan di bidang elektronika terutama kuantum.

Sekarang saja telah banyak perusahaan-perusahaan elektronika, terutama di Jepang (seperti Toshiba, Sumitomo Kagaku, Osaka Gas, Mitsubishi Kagaku, dan lain-lain) memakai material fullerene untuk mengembangkan solar cell (penghasil energi dari sinar matahari). Selain cost-down yang memungkinkan, fullerene berpotensi menghasilkan solar cell dengan efisiensi yang lebih tinggi dibanding solar cell dari poli-silikon sekarang.
Fullerene juga berpotensi digunakan dalam pengembangan fuel cell, sebagaimana dilakukan grup peneliti di Institut Teknologi California dan perusahaan Sony Jepang. Fuel cell adalah jenis baterai pembangkit energi listrik dari reaksi kimia antara gas hidrogen dan oksigen. Karena output-nya hanya menghasilkan air saja, teknologi ini tidak polusif dan sangat ramah lingkungan.

Dalam baterai fuel cell, penggunaan fullerene diharapkan bisa menghasilkan fuel cell dalam ukuran kecil yang tidak bisa direalisasikan dengan bahan yang dipakai sekarang.
APLIKASI lain dari fullerene adalah untuk hardisk komputer, karena fullerene punya sifat magnet dalam kondisi tertentu. Fullerene juga bisa diaplikasikan dalam bidang kesehatan. Konon, fullerene berpotensi untuk mencegah perkembangan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang berarti memungkinkan dipakai sebagai obat AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome)  

Referensi

Antoine Lavoisier - Permata Ilmu yg Hilang





"It took them only an instant to cut off that head, and a hundred years may not produce another like it"


Maksud dari kalimat bercetak miring di atas adalah “hanya perlu sekejap untuk memenggal kepala Lavoisier, namun seratus tahun pun mungkin tidak bisa melahirkannya kembali”.



Kata-kata di atas diucapkan oleh ahli matematika Prancis, Joseph Louis Lagrange, beberapa saat setelah kepala Antoine Lavoisier dipenggal pada 8 Mei 1794. Siapakah Antoine Lavoisier itu sehingga Lagrange berucap seperti itu?
  
Antoine Laurent Lavoisier, demikian nama lengkap ilmuwan kimia Prancis yang lahir pada tahun 1743 di Paris. Selain menguasai ilmu kimia, Lavoisier juga menguasai berbagai ilmu lainnya, seperti hukum, ekonomi, pertanian, dan geologi. Sebelum menekuni ilmu kimia, Lavoisier mengikuti jejak ayahnya mempelajari ilmu hukum.

Meskipun mempelajari ilmu hukum, Lavoisier menunjukkan ketertarikannya dalam ilmu sains. Pada tahun 1768, Lavoisier terpilih menjadi anggotaAcademie Royale des Sciences (Akademi Sains Kerajaan Prancis), suatu komunitas ilmuwan sains.

Pada tahun yang sama, ia membeli Ferme Generate, perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa pengumpulan pajak untuk kerajaan. Lavoisier diangkat menjadi Komisaris Polisi Kerajaan ketika berusia 32 tahun. Lavoisier diberi tangggung jawab mengelola laboratorium serbuk mesiu. Ia mengembangkan laboratoriumnya dengan merekrut kimiawan-kimiawan muda dari berbagai penjuru Eropa.

Lavoisier dan anak buahnya bekerja keras memperbaiki metode pembuatan serbuk mesiu. Ia dan timnya berhasil meningkatkan kualitas dan kemurnian bahan baku pembuatan mesiu, yaitu sendawa, belerang, dan batu bara. Hasilnya tidak mengecewakan, serbuk mesiu yang dihasilkan laboratoriumnya menjadi lebih banyak dan lebih baik dibandingkan sebelumnya.
  
Itulah awal perkenalan Lavoisier dengan penelitian kimia. Sejak itu, Lavoisier semakin giat melakukan penelitian di bidang kimia. Usaha keras Lavoisier didukung penuh oleh istrinya, yaitu Marie-Anne Pierrette Paulze. Marie membantu suaminya menerjemahkan tulisan kimiawan Inggris, Joseph Priestley.

Selain itu, Marie-Anne Pierrette mempunyai keterampilan menggambar. Keterampilannya ini digunakan untuk menggambar hasil-hasil penelitian Lavoisier. Sumbangan terbesar Lavoisier terhadap pengembangan ilmu kimia sehingga dijuluki bapak kimia modern adalah keberhasilannya menggabungkan semua penemuan di bidang kimia yang terpisah dan berdiri sendiri menjadi suatu kesatuan.


Lavoiser dipandang sebagai bapak Ilmu Kimia Modern, karena dia yang memulai penerapan metode ilmiah ke dalam percobaan-percobaan ilmu kimia.

Lavoisier membuat kerangka dasar kimia berdasarkan hasil penelitian kimiawan sebelumnya, seperti Joseph Black, Henry Cavendish, Joseph Priestley, dan George Ernst Stahl. Pada saat itu, para ilmuwan mempercayai bahwa reaksi pembakaran menghasilkan gas flogiston sehingga massa zat setelah pembakaran lebih sedikit daripada sebelumnya. Hal ini didasarkan pada percobaan yang dilakukan Priestley.

Priestley memanaskan oksida raksa (red calx mercury). Reaksi pemanasan padatan oksida raksa menghasilkan air raksa dan gas tak berwarna di atasnya. Setelah ditimbang, massa air raksa lebih sedikit daripada massa oksida raksa. Priestley menyebut gas tak berwarna itu dengan istilah flogiston. Namun tidak demikian dengan Lavoisier, ia meragukan adanya gas flogiston.

Menurut dugaan Lavoisier, yang dimaksud flogiston adalah gas oksigen. Kemudian, Lavoisier mengulang percobaan Priestley untuk membuktikan dugaannya. Ia menimbang massa zat sebelum dan setelah reaksi pemanasan oksida raksa secara teliti menggunakan timbangan yang peka.


Ternyata, terjadi pengurangan massa oksida raksa. Lavoisier menjelaskan alasan berkurangnya massa oksida raksa setelah pemanasan. Ketika dipanaskan, oksida raksa menghasilkan gas oksigen sehingga massanya akan berkurang. Lavoisier juga membuktikan kebalikannya. Jika sebuah logam dipanaskan di udara, massanya akan bertambah sesuai dengan jumlah oksigen yang diambil dari udara.

Kesimpulan Lavoisier ini dikenal dengan nama hukum kekekalan massa. Jumlah massa zat sebelum dan sesudah reaksi tidak berubah, begitu bunyi hukum tersebut. Dengan penemuan ini, teori flogiston yang dipercayai para ilmuwan kimia selama kurang lebih 100 tahun akhirnya tumbang.

Lavoisier juga menyatakan proses berkeringat merupakan hasil pembakaran lambat di dalam tubuh. Lavoisier menuliskan ide-idenya dalam sebuah buku yang berjudul Traite Elementaire de Chimie (Pokok-pokok Dasar Ilmu kimia). Buku yang dipublikasikan pada tahun 1789 itu juga memuat pendapat Lavoisier mengenai definisi unsur kimia.

Lavoisier berpendapat bahwa unsur adalah zat yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat yang lebih sederhana. Berdasarkan hal tersebut, Lavoisier membuat daftar 33 zat yang termasuk unsur.

 
Pada tahun 1789, kondisi ekonomi Prancis terguncang. Harga-harga tidak stabil. Masyarakat pun resah. Pada saat itu Lavoisier tengah asyik melakukan penelitian. Lavoisier terpaksa mengurangi kegiatan penelitiannya karena waktunya lebih banyak tercurah untuk memperbaiki kondisi ekonomi negaranya.

Mereformasi pajak garam, mencegah penyelundupan dengan cara membangun benteng di sekeliling Paris, dan memperbaiki metode pertanian merupakan beberapa usahanya untuk memperbaiki ekonomi. Walaupun memberikan banyak kontribusi terhadap sains maupun ekonomi, hidup Lavoisier terpaksa berakhir secara tragis.

Ketika terjadi revolusi Prancis, seluruh pejabat dan bangsawan kerajaan ditangkap, termasuk Lavoisier. Ia dikenakan dakwaan turut aktif mengambil pajak rakyat untuk kerajaan melalui perusahaan pajaknya (Ferme Generate), menurunkan kualitas udara kota karena membangun benteng di sekeliling Paris, mencampurkan tembakau dengan air, dan memindahkan serbuk mesiu dari gudang senjata.

Akhirnya Lavoisier dijatuhi hukuman mati. Sesaat sebelum eksekusi dilaksanakan, Lavoisier meminta penundaan waktu hukuman. "Saya ilmuwan bukan bangsawan", ujar Lavoisier. Tapi hakim dengan tegas menjawab, "Republik tidak memerlukan ilmuwan!".

Nyawa Lavoisier melayang. Dunia berduka. Salah satu permata ilmu hilang secara sia-sia. Benar apa yang dikatakan Joseph Louis Lagrange, "Hanya perlu sekejap untuk memenggal kepala Lavoisier, namun seratus tahun pun mungkin tidak bisa melahirkannya kembali." Sayang, nasi telah menjadi bubur.

Referensi : 

Mengenal Lebih Dekat Bapak Pencetus Teori Asam-Basa Arrhenius




Svante Arrhenius yang lahir pada 19 Februari 1859 memasuki sekolah katedral  
sejak usia 8 tahun dan lulus sebagai siswa termuda kemudian melanjutkan  
pendidikannya di Universitas Uppsala tahun 1876 dan indah ke Stockholm  
karena tidak puas dengan dosen Kimianya di Uppsala. 


Di Stockholm Svante Arrhenius mengambil pendidikan di Swedish Academy of 
Sciences tahun 1881di bawah bimbingan fisikawan Erik Edlund. Karena beasiswa perjalanan yang didapatkannya dari Swedish Academy of Sciences, Svante Arrhenius bisa kuliah dengan  
Ostwald di Riga (Latvia), di Würzburg Jerman bersama Friedrich Kohlrausch, dengan Ludwig Boltzmann di Graz, Austria, dan juga di Amsterdam dengan van 't Hoff. 

Pada tahun 1891 Svante Arrhenius menolak tawaran sebagai pengajar  
di Giessen, Jerman setelah Svante Arrhenius mengajar sejak tahun 1889  
Svante Arrhenius di Stockholm University College,tahun 1895 Svante Arrhenius  dipromosikan menjadi profesor fisika dan menjadi rektor di tahun 1896 dan juga menjadi dosen fisika di Stockholms Högskola tahun 1895.  
Setelah pensiun Svante Arrhenius mendapatkan  
undangan untuk menjadi guru besar di Berlin. 

Svante Arrhenius terlibat dalam pendirian Nobel Institutes dan  
Penghargaan Nobel,Svante Arrhenius juga terpilih sebagai anggota Royal  
Swedish Academy of Sciences pada tahun 1901,menjadi anggota  
Komite Nobel untuk bidang Fisika dan Kimia. 
Saat Nobel Institut berdiri di Stockholm untuk riset Fisika tahun  
1905 Svante Arrhenius diangkat sebagai rektor hingga pensiun 
pada tahun 1927. 

Selain itu Svante Arrhenius juga menerima beasiswa penelitian dari Royal  
Societ pada tahun 1910 danterpilih sebagai Anggota Kehormatan Luar 
Negeri Amerika Akademi Seni dan Ilmu Pengetahuan tahun 1912.  
Karena dedikasinya dalam perkembangan serta kemajuan fisika dan
kimia,tahun 1903 Svante Arrhenius menjadi orang Swedia pertama yang  
menerima Nobel Prize di bidang kimia kemudian tahun 1914  
Svante Arrhenius menerima medali dari Davy Society dan juga medali Faraday dari Chemical Society, selain itu Svante Arrhenius  juga menerima gelar kehormatan dari berbagai universitas seperti Universitas Birmingham,  
Cambridge, Edinburgh, Greifswald, Groningen, Heidelberg, Leipzig dan Oxford. 

Svante Arrhenius juga dikenal sebagai ilmuwan yang telah menulis buku-buku tentang fisika dan kimia, tahun 1900 mengeluarkan buku teori
elektrokimia berjudul robok i teoretisk elektrokemi, 1903 menerbitkan
buku tentang fisika kosmis Lehrbuch der Physik kosmischen, Theorien der
Chemie sebuah buku tentang teori kimia terbit tahun 1906 dan Theories of
solutions tahun 1918. Tahun 1919 bukunya tentang kimia dan kehidupan  
modern dengan judul Kemien och det moderna livet diterbitkan serta masih
banyak buku - bukunya yang terbit dan diterjemahkan dalam  berbagai bahasa
untuk acuan dalam mempelajari ilmu fisika dan kimia.

Dari seorang Arrhenius inilah, tercetus sebuah teori asam-basa Arrhenius.

* Teori Asam - Basa Arrhenius
Sejak berabad - abad yang lalu, para pakar mendefinisikan asam dan basa  
berdasarkan sifat larutannya. Larutan asam mempunyai rasa masam dan
bersifat korosif (merusak logam, marmer, dan berbagai bahan lain), 
sedangkan larutan basa berasa agak pahit dan bersifat kaustik (licin, seperti  
bersabun). Untuk menjelaskan penyebab sifat asam dan basa, sejarah
perkembangan ilmu kimia mencatat berbagai teori.
Pada tahun 1777, Antoine Laurent Lavoisier (1743-1749) mengemukakan bahwa asam mengandung 
unsur oksigen. Unsur itu yang dianggap bertanggung jawab atas sifat-sifat asam. Namun, pada tahun 1810, Sir Humphry Davy (1778-1829) menemukan bahwa asam hidrogen klorida tidak mengandung unsur oksigen. 
Davy kemudian menyimpulkan bahwa unsur hidrogenlah, dan bukan unsur  
oksigen, yang merupkan unsur dasar dari setiap asam. Kemudian pada 
tahun 1814, Joseph Louis Gay-Lussac (1778-1850) menyimpulkan bahwa 
asam adalah zat yang dapat menetralkan alkali dan kedua golongan senyawa itu hanya dapat 
didefinisikan dalam kaitan satu dengan yang lain.
Konsep yang cukup memuaskan tentang asam basa, dan yang tetap diterima hingga sekarang, 
dikemukakan oleh Svante August Arrhenius (1859-1927) pada tahun 1884.





























Referensi :
https://www.merdeka.com/svante-august-arrhenius/profil/
(diakses 15 Februari 2018)

Sintaks Model Learning Cycle 3e dan Video Pembelajarannya




Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain.

Siklus belajar bersandar pada konstruktivisme sebagai dasar teoritisnya. “Konstruktivisme adalah model dinamis dan interaktif tentang bagaimana manusia belajar”, (Farza : 2014.). Sebuah perspektif konstruktivis menganggap siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran mereka dan konsep tidak ditransmisikan dari guru ke murid tapi dibangun oleh siswa. Model pembelajaran berdasarkan teori konstruktivisme salah satunya adalah model pembelajaran Learning Cycle (siklus belajar). 

Model Learning Cycle 3E yaitu model pembelajaran yang berpusat pada pelajar. Learning Cycle patut dikedepankan karena sesuai dengan teori Piaget dimana teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Robert Karplus dari Universitas California, Barkley tahun 1970-an. 

Karplus mengidentifikasi adanya tiga fase yang digunakan dalam model pembelajaran ini yaitu 
1. Preliminary exploration, 
2. Invention, dan
3. Discovery. 

Berkaitan dengan tiga fase dalam learning cycle, Charles Barman dan Marvin Tolman menggunakan istilah 
1. Exploration,
2. Concept introduction, dan 
3. Concept application. 

Joseph Abruscato menggunakan istilah 
1. Exploration, 
2. Concept acquisition, dan 
3. Concept application. 

Sedangkan Edmund Marek menggunakan istilah 
1. Exploration, 
2. Term introduction, dan 
3. Concept application. 

Walaupun disebutkan dengan istilah yang berbeda, namun pada dasarnya mempunyai makna yang sama menurut Purwanti (2012). Model siklus belajar adalah model pembelajaran yang dilaksanakan dengan tiga fase, yaitu fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Kegiatan pembelajarannya dilakukan baik secara individual maupun berkelompok. Namun, secara umum langkah-langkah pembelajarannya, meliputi :
1. Menyelidiki suatu fenomena dengan bimbingan minimal, untuk membawa siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan dalam fenomena yang diselidiki (fase eksplorasi).

2. Mendiskusikan konsep-konsep yang berhubungan dengan fenomena yang diselidiki (fase pengenalan konsep).


3. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang telah diperkenalkan untuk penyelidikan lebih lanjut (fase aplikasi konsep), (Wena : 2011).



Dibawah ini penulis memberikan contoh penerapan model Learning Cycle 3E dalam pembelajaran Kimia :



Referensi :
Tugas Model pembelajaran 2017

1 Agustus 1774 - Penelitian tentang Oksigen dipublikasikan

Kamu bernafas menghirup apa? Pertanyaan sederhana ini biasanya dijawab dengan dua jawaban, pertama menghirup udara, dan kedua menghirup ok...